Selasa, 26 April 2011

Gudang Ransum, Saksi Sejarah Orang Rantai




Sawahlunto, kota satelit yang berada tepat dijantung pulau Sumatera, tepatnya di Provinsi Sumatera Barat adalah saksi sejarah kemajuan Industri tempo doeloe. Kota nan unik. Unik dalam arti sosial, budaya, kultur bahkan pemerintahan.
Betapa tidak, secara social, budaya dan kultur karakter masyarakat di kota ini sangat multi etnik. Hal ini di topang oleh sangat beragamnya unsure budaya dan etnik baik Minang, Jawa, Batak, Tionghoa, dan lain sebagainya. Dari segi pemerintahan, di Kota ini juga sangat unik. Di Sawahlunto ini masih ada pemerintahan desa, nagari dan Kelurahan. Mungkin inilah satu-satunya kota di Sumatera Barat yang masih memiliki desa di daerahnya. Memang sangat unik.
Semua keunikan itu sebenarnya berawal dari sejarah hadirnya kota ini yang tidak terlepas dari ditemukannya batu bara dan hadirnya Kereta Api. Inilah yang menjadi cikal bakal menjadikan daerah yang dulunya hanya persawahan yang di kelilingi pebukitan berubah menjadi sebuah kota yang sangat maju di era abad 18 dan 19 an.
Hingga sekarang, saksi sejarah yang membuktikan hal ini hingga kini masih ada. Salah satunya Gudang Ransum.
Di Sawahlunto ada Museum Gudang Ransum. Di Musium ini didapati sejumlah koleksi berukuran raksasa.  Museum ini menjadi bagian yang tak terpisahkan dari proses pertambangan di Sawahlunto. Dulunya bekas dapur umum buat para pekerja pertambangan. Gudang Ransum didirikan tahun 1895. Di museum seluas 2.300 meter persegi mengoleksi berbagai peralatan yang dipakai memasak pada zaman dulu seperti tungku pembakaran yang tingginya 4 meter lebih, sejumlah periuk berdiameter 132 Cm dengan tinggi 62 Cm, kuali, rangsang, dan aneka peralatan dapur umum yang berukuran raksasa.
Di musem ini juga dipajang beberapa foto Orang Rantai dan kegiatan pertambangan yang membawa ingatan kita ke tempo doeloe. Gudang Ransum dulunya berfungsi sebagai tempat penyimpanan makanan pekerja Rantai (sebutan bagi tahanan Belanda yang dijadikan pekerja paksa). Mengingat para pekerja Rantai berjumlah ribuan dari berbagai daerah oleh sebab itu membutuhkan ransum (makanan) dalam jumlah besar dan cepat. Karena itu dipersiapkan Gudang Ransum dengan peralatan dapur serba besar.
Gudang Ransum terdiri dari beberapa bagian antar lain bagian dapur umum, gudang persediaan barang mentah, power strum atau tungku pembakaran, pabrik es batangan, penggilingan padi, dan rumah pemotongan hewan. Bahan bakar memasaknya dengan sistem uap. Di bawah ruang masak terdapat ruang bawah tanah dengan pipa cerobong yang mengalirkan uap panas untuk 20 tungku. Uap panas ini berasal dari air panas yang direbus di atas perbukitan yang dialirkan uapnya ke Gudang Ransum.
Setiap harinya Gudang Ransum menyediakan 65 pikul nasi untuk ribuan pekerja. Jatah makanan untuk Orang Rantai biasanya diantar ke lokasi tempat mereka bekerja. Koleksi Museum Gudang Ransum berjumlah 150 koleksi. Tidak termasuk koleksi foto-foto lama yang berjumlah 250 buah.  Inilah, salah satu bukti sejarah keberadaan orang rantai tempo doeloe.